Business

Klik untuk memesan Web Hosting dengan jaringan terbaik dan tercepat saat ini

Euforia Desember Umat Kristiani Di Maluku

Euforia Desember Umat Kristiani Di Maluku. UMAT Kristiani di Maluku, selalu merindukan datangnya bulan Desember. Selain ingin merayakan Natal Kristus, Bulan Desember bagi umat Kristiani merupakan bulan penuh siraman rohani yang dibalut dengan semangat kekeluargaan. Memang, puncak peringatan Natal baru akan dirayakan pada 25 Desember 2015. Biasanya, diawali ibadah malam Natal pada 24 Desember dan dilanjutkan ibadah Natal pada 25 Desember.

Euforia Desember Umat Kristiani Di Maluku
Pohon Natal Penuh Hiasan

Tetapi, bagi umat Kristiani di Maluku, semangat merayakan Natal tidak hanya pada 25 Desember. Sejak Oktober atau November sudah ada pembahasan soal Natal. Minimal, pembentukan Panitia Perayaan Natal dan aksi pencarian dana. Belum lagi pada hari-hari terakhir Bulan November, keluarga Kristiani sudah sibuk belanja pernak-pernik dan memasang pohon Natal yang dalam bahasa Ambon disebut Pohon Terang. Tujuannya begitu menginjak 1 Desember 2015, rumahnya sudah dihiasi dengan kehadiran Pohon Natal yang dipajang sepanjang Bulan Desember.

Euforia Desember Umat Kristiani Di Maluku
Pohon Natal Di Pattimura Park

Memajang pohon Natal di rumah (maupun di tempat-tempat umum) di Bulan Desember bukanlah tradisi gerejawi. Tetapi hanya kebiasaan atau tradisi masyarakat Kristiani untuk meyambut dan memeriahkan Hari Natal. Banyak versi terkait asal-usul tradisi memajang pohon Natal tersebut. Tetapi yang pasti, kebiasaan ini lahir dari tradisi masyarakat Kristiani di Eropa dan Amerika. Kebetulan Portugis dan Belanda lama bercokol di Maluku, maka jadilah kebudayaan tersebut membaur dalam budaya masyarakat Kristen Maluku.

Euforia Desember Umat Kristiani Di Maluku
Jalanan Di Ambon Penuh Hiasan Menjelang Natal

Usai sibuk-sibuk memajang pohon Natal, biasanya keluarga-keluarga Kristiani di Maluku, ditunggu kesibukan baru, yakni menghadiri atau menjadi panitia perayaan Natal. Warga Kristiani di Maluku umumnya hampir setiap dua hari sampai tiga hari sekali mengikuti ibadah Natal. Bahkan ada sejumlah masyarakat yang setiap hari mengikuti ibadah perayaan Natal.

Maklum di Maluku itu, banyak acara Natal yang digelar. Ada Natal Unit yaitu Natal setingkat Rukun Tetangga (RT), ada Natal Sektor atau setingkat Rukun Warga (RW), dan ada juga Natal Jemaat atau setingkat Natal Negeri (kampung). Itu sudah pasti setiap tahun menjadi agenda rutin. Belum lagi acara Natal sekolah minggu, Natal Remaja, Natal Pemuda, Natal Kaum Ibu, dan Natal Kaum Bapa, yang merupakan bagian dari struktur organisasi gereja.

Di luar itu, masih ada lagi acara Natal Keluarga Besar, Natal Marga, Natal Negeri asal (kampung halaman), dan Natal Pela Gandong, dan Natal Sekolah, Natal Fakultas, Natal Kampus, Natal alumni, Natal Kantor tempat bekerja, Natal Komunitas bermain, Natal Persekutuan Doa dan lain sebagainya. Di setiap acara Natal, nuansa kekeluargaan sangat terasa. Apalagi umumnya mereka semua terlibat dalam persiapan hingga pelaksanaan acara.

Makanya, bulan Desember selalu menjadi ajang reuni. Banyak anak Maluku yang beragama Kristen di perantauan selalu merindukan suasana-suasana seperti ini dan sangat menikmatinya saat mereka pulang kampung. Pulang kampung di bulan Desember punya nilai plus. Selain momentum bertemu keluarga dan merayakan Natal, juga sudah pasti mereka akan bertemu dengan keluarga besar dan teman-teman masa kecil sampai remaja. Juga akan berjumpa dengan oom-om, tante, oma, opa, dan semua basudara yang dikasihi.

Yang menarik, di sela-sela kesibukan mengikuti berbagai acara Natal, pada Bulan Desember, ada sebuah tradisi yang juga dipertahankan hingga saat ini, yaitu Sinterklas. Sinterklas dan Zwarte Piet merupakan adopsi kebiasaan yang awalnya berasal dari Belanda. Pada minggu-minggu awal Bulan Desember  kita terbiasa melihat berbagai konvoi Sinterklas di jalan-jalan raya yang datang ke rumah-rumah warga. Anggota rombongan Sinterklas itu biasanya adalah para pemuda-pemudi gereja. Mereka memanfaatkan momentum tersebut untuk mencari dana bagi pelaksanaan Natal Pemuda atau Natal Komunitas.

Biasanya, para pemuda yang akan membentuk rombongan Sinterklas sudah menghubungi lebih dulu para orang tua yang mempunyai anak kecil dan menawarkan jasa mereka untuk datang memberi kado Natal kepada anak-anak. Lucunya Sinterklas (Di Ambon biasa disebut Senterklas) tidak sendiri, dia datang ditemani Zwarte Piet (Di Ambon biasa disebut Senterpit). Sinterklas memainkan peran sebagai bapak yang baik dan dermawan, sedang Zwarte Piet yang didandani serba hitam, dikesankan sebagai orang yang galak, suka menghukum anak-anak nakal.

Nah, biasanya anak-anak nakal paling takut jika didatangi Zwarte Piet. Mereka akan ditakuti-takuti bahkan diancam masukin ke dalam karung, jika tidak berjanji akan menjadi anak yang baik. Bagaimana sejarah Sinterklas bisa menjadi tradisi yang dilaksanakan setiap Bulan Desember? Banyak versi ceritanya juga. Tapi, yang pasti Sinterklas dan Pohon Terang sudah membudaya di kalangan masyarakat Kristiani Maluku. Dan, semua euforia di balik itu memiliki makna kekeluargaan serta kebaikan dalam menjalani hidup.

Itulah sekilas tentang euforia umat Kristiani Maluku di Bulan Desember. Selamat menyambut euforia Natal buat umat Kristiani di Maluku.

REFERENSI   :
http://satumaluku.com/2015/12/08/euforia-desember-umat-kristiani-di-maluku
http://barondaambon.weebly.com
https://id.wikipedia.org/wiki/Sinterklas

Post a Comment

0 Comments