Maluku Dan Suku Israel Yang Hilang


Maluku Dan Suku Israel Yang Hilang
Maluku Dan Suku Israel Yang Hilang. Sejarah ini berasal dari cerita di tahun 605 SM dari Kerajaan Yehuda (Kerajaan Selatan) yang ditaklukkan dan rakyat Yehuda diangkut ke pembuangan di daerah Media dan Persia (Iraq dan Iran). Saat Kerajaan Persia berkuasa, kekuasaannya meliputi Etiopia (Afrika) hingga sampai ke India. Bahkan sejak tahun 722 SM, Kerajaan Israel (Kerajaan Utara) yang terdiri dari 13 suku telah lebih dahulu diangkut oleh bangsa Asyur, kemudian diserahkan kepada berbagai bangsa di daerah yang berada dibawah kekuasaan Asyur.


Maluku Dan Suku Israel Yang Hilang

Saat bangsa Romawi menjajah Palestina dan Asia Tengah sejak tahun 63 SM sampai munculnya agama Kristen pada abad 1 M, ketika itu jalan-jalan raya dibangun, sehingga memungkinkan bagi seseorang untuk mencapai seluruh bagian kerajaan ini dengan mudah. Orang Israel tersebar hampir di semua kota di dalam wilayah kekaisaran Romawi banyak yang menjadi pedagang dan pada saat itu terjadi hubungan dagang yang sangat baik antara dunia barat (Kerajaan Roma) dengan dunia timur (Kerajaan China).

Pada saat menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi inilah para pedagang bangsa Ibrani tiba di Maluku bersama mitra dagang kerajaan Roma yaitu para pedagang bangsa China. Salah satu bukti kuat cerita sejarah ini bahwa pada abad ke-1M, rempah-rempah dari Maluku pernah dijual di Yerusalem, adalah karena pada tahun 33 M, beberapa orang wanita Yahudi yaitu: Maria Magdalena dan teman-temannya membeli rempah-rempah di pasar Yerusalem untuk mengawetkan jenazah Yesus (Markus 16:1). Orang-orang Israel tiba di Maluku adalah pedagang-pedagang yang datang sendiri ke Maluku setelah mengetahui jalan ke Maluku dari para pedagang bangsa China.

Dalam buku Sejarah Maluku hal. 19 dikatakan bahwa kata Maluku berasal dari kata “Maloko” yang merupakan sebutan gelar bagi Kalano (kepala daerah) . Kata “Maloko” ini menurut marga Resley berasal dari bahasa Ibrani. Sebutan bagi raja dalam bahasa Ibrani adalah “Melek” atau “Melekh”. Bentuk yang lebih kuno adalah “Maliki” (EKAMK II hal. 292), sehingga dalam Tambo Dinasti Tang di China (618-906) “Maluku” tercatat sebagai “Miliku”, yaitu suatu daerah yang dipakai sebagai patokan penentuan arah ke kerajaan “Holing” (Kalingga) yang ada di sebelah Barat.

Kata Maluku mirip dengan Maloko yaitu “Molokh” yaitu Ilah yang disembah bani Amon. Bentuk Ibrani nama ini ialah “Molek”. Dalam kitab suci Perjanjian Lama, Molek umumnya memiliki kata sandang (Imamat 18:21; 20:2-5, 2 Raja-raja 23:10, Yeremia 32:35). Kata “Molokh” pada ayat-ayat tsb menyiratkan bahwa kata itu mungkin merupakan kata umum bagi orang yang memerintah (EKAMK II hal. 93). Dengan demikian, maka gelar Maloko yang dikenakan bagi seorang Kalano adalah berasal dari budaya dan bahasa Ibrani. Dan kata Molekh (Moloch) dalam bahasa Ibrani artinya raja. Maloko kemudian disebut Maluku (Molokhus).

Dan memang kepulauan Maluku artinya Kepulauan Raja-Raja. Menurut Resley, kata “Alifuru” yang merupakan sebutan bagi orang yang pertama kali mendiami Maluku bukan berasal dari bahasa Arab (Alif) yang berarti awalan. Sebab jauh hari sebelum pengaruh Arab (Islam) masuk ke Maluku pada pertengahan abad ke XIV, sudah ada bangsa yang mendiami kepulauan Maluku yang penyebarannya dimulai dari Nusa Ina dan Halmahera yang mana disebut oleh antropolog AH. Keane, FJP. Sachese dan OD. Tauren dengan sebutan suku bangsa “Alfuros”.

Kata Alfuros ini sangatlah tidak mungkin diambil dari kata Alifuru, sekalipun kata ini menunjuk pada pengertian manusia mula-mula. Sebab bila kata Alifuru ini dikaitkan dengan kata Maloko, Baeleu, dan Seniri, serta budaya kepala suku, yaitu Alluf, maka sangatlah tidak cocok. Kata tersebut berasal dari Alif muncul setelah masuknya bangsa Arab ke Maluku. Tetapi sebelum itu, kata Alfuros ini menunjuk kepada nama suku bangsa yang telah ditemukan oleh para ahli, yaitu “ALUNE” yang ada baik di Nusa Ina (Seram) dan Halmahera yang memiliki budaya atau system pemerintahan “ALLUF” yaitu: kepemimpinan berada di tangan “kepala kaum/kepala suku”. Budaya ini mula-mula diterapkan oleh bangsa “Edom”: yaitu keturunan Esau, saudara Yakub (Israel) anak Ishak, di Maluku disebut mata rumah (kepala kaum), kepala Soa dan kepala suku.

Alluf dalam pengertian bahasa Ibrani artinya adalah:

– Panglima, pemimpin (Kamus Singkat Ibrani-Indonesia hal. 11)
– Kepala-kepala kaum di Edom yang di kemudian hari disebut “Raja” (Kejadian 36:19, 31)

Pada bagian akhir dari bukunya, Resley mengatakan bahwa mayoritas orang Maluku adalah merupakan keturunan dari suku Gad, yaitu suku Israel yang telah disangka hilang dan tak dapat ditemukan lagi di dunia.

Suku Gad inilah satu-satunya suku yang tidak memiliki perwakilan di Israel hingga saat ini. Terbukanya pintu gerbang emas (Golden Gate) serta terpenuhinya nubuat kedatangan Kristus yang kedua kalinya untuk memerintah dunia dari Yerusalem hanya terpenuhi jika kedua belas suku telah berkumpul di tanah Zion (Israel), dimana termasuk di dalamnya adalah suku Gad, yang pada akhirnya diistilahkan Resley dengan sebutan Yahudi Alfuros. Orang-orang Yahudi Alfuros (dari suku Gad), sebagian menyebar ke bagian barat, menyinggahi pulau Rote dan menetap di Rote bagian timur di suatu daerah yang dinamai Beluba dan di bagian barat daya Thie.

Menurut para tokoh adat di Rote, mereka selalu menyebut Pulau Seram dan Tidore sebagai tempat asal nenek moyang orang Rote. Para leluhur tersebut datang secara bergelombang. Kisah para leluhur orang Rote ini tidak terlepas dari kisah tiga bersaudara, yaitu Belu Mau, Sabu Mau, dan Ti Mau. Belu Mau menetap di Belu setelah menyinggahi pulau Rote. Di Rote Timur, Belu Mau memberi nama daerah itu ‘Beluba’ sekarang bernama Bilba.

Di Beluba (Bilba) pada jaman kolonial Belanda sudah pernah terbentuk satu Kerajaan kecil bernama Kerajaan Beluba dengan Rajanya berjulukan ‘Mane Kaiyoe” dari suku Kaiyoe. Belu Mau kemudian berlayar lagi ke pulau Timor dan dialah yang menjadi nenek moyang orang Belu saat ini. Si bungsu, Ti Mau berlayar ke barat dan menetap di Rote Barat Daya, daerah itu diberi nama Nusak Thie. Sedangkan Sabu Mau meneruskan perjalanannya dan menetap di Pulau Sawu. Para leluhur menyebut Pulau Rote sebagai Pulau Kale, dengan julukan Nusa Ne do Lino, artinya negeri tenang dan damai.

Suku Israel Yang Hilang Di Pulau S’rua

Pada waktu Portugis datang ke Maluku, orang-orang Yahudi turut serta mengikuti armada Portugis dan ketika mereka sampai di Maluku maka orang-orang Yahudi ini tinggal dan menetap hingga beranak cucu di tempat-tempat yang mereka datangi di daerah Maluku. Contohnya daerah-daerah penghasil cengkeh seperti Banda dan Ambon, kususnya daerah Banda dan sekitarnya kini disebut Maluku Barat Daya (MBD) yang berdekatan dengan Banda disinilah anak cucunya tersebar di sekitar daerah tersebut.

Pada waktu bagian dari armada Antonio de Abreu datang ke Maluku, mereka menyinggahi Pulau Teon Nila S’rua (TNS) khususnya S’rua, dan turunlah beberapa orang keturunan Yahudi yaitu dari marga/clan Resley dan Koenoe dan beberapa marga lainnya untuk menetap disitu sebagai bagian dari kebijakan/politik Portugis kala itu. Saat Pulau TNS itu ada dalam kekuasaan mereka, mereka membangun perkampungan dimana perkampungan itu sedikit berbeda bentuknya dari perkampungan pribumi di Maluku pada umumnya. Jika Perkampungan/Negeri di Maluku Tengah pribumi bentuknya memanjang seperti dari hulu ke hilir/atas ke bawah di mana Raja menempati bagian atas kemudian diikuti oleh Kapitan dan seterusnya.

Tetapi Perkampungan yang dibentuk oleh Pemukim Yahudi ini (merupakan bagian dari Kontingen/Koloni dari Bangsa Portugis di Pulau S’rua Negeri Waru agak berbeda dimana bentuk Perkampungan Yahudi dibuat melingkar berbentuk Tabernakel (Kemah Suci) dimana di tengah-tengahnya terdapat Natra/tempat suci lalu Raja dalam marga/clan/perkampungan ini RESLEY sedangkan marga KOENOE sebagai Kapitan dan beberapa marga lainnya sebagai staf Raja dibuat pemukiman melingkar mengelilingi rumah Raja dan Tempat Raja maupun Natra tidak berada di bagian tengah dan tidak bisa di masuki oleh orang lain selain oleh Marga Resley.

Ditengah-tengah terdapat Natra yaitu Mesbah batu yang didirikan untuk tujuan peribadatan, hal ini menjelaskan mengapa Perkampungannya dibuat melingkar menyerupai Tabernakel dan Mesbah serta Tempat Raja di tengah dan sebagai “Daerah Terlarang” yang hanya bisa dimasuki oleh Keluarga Raja di masa lalu sebelum Kristen masuk Maluku dan Pulau TNS. Menariknya di sini untuk dipertanyakan “Kenapa mereka tidak memeluk agama Kristen padahal mereka merupakan bagian dari armada Portugis yang merupakan Kerajaan Kristen?”. Informasi dari Bapak Resley tidak menjelaskan padahal masih banyak yang sekali misteri yang harus dibuka dan dijelaskan berdasarkan fakta sejarah yang ada.

Kita lihat keadaan yang melatar belakangi pelarian mereka apa yang terjadi dinegara asal mereka yaitu Portugis dan Spanyol dimana terjadi Reqonquista/penaklukan kembali wilayah jazirah Iberia (Spanyol dan Portugis) yang dikuasai oleh khalifah muslim sejak tahun 700 masehi sampai 1492, oleh ksatria-ksatria Aragon Spanyol dan Portugis wilayah Spanyol dan Portugis baru bisa direbut kembali secara total pada tahun 1492 dan dimana itu merupakan tahun terakhir dari kekuasaan Khalifah Muslim di negeri Spanyol dan Portugis.

Ketika Tanah Spanyol dan Portugis dikuasai kembali oleh tentara Salib, mereka kemudian berbalas dendam dengan memaksa bukan saja orang Muslim tapi juga orang Yahudi yang berada di tanah Iberia yaitu Spanyol dan Portugis untuk memeluk agama Kristen jika menolak mereka akan diusir bahkan dibunuh. Tak sedikit korban rakyat saat peristiwa April Mop itu terjadi. Itulah kenapa Spanyol dan Portugis dua negara yang menjadi pelopor penjelajah samudera dan penemu dunia baru yang terkenal dengan slogan 3G=Gospel (penyebaran Nasrani), Gold (mencari emas sebanyak-banyaknya) dan Glory (menaklukan bangsa diseluruh dunia).

Ini hanyalah sejarah dimana semuanya berkaitan satu sama lain dan tidak ada maksud tertentu dari pengungkapan sejarah ini. Jika kita menjelaskan sesuatu kita harus menulusuri kebelakang (sejarah) apa yang menjadi sebab dari kejadian tersebut dalam hal ini kenapa pemukim Pulau S’rua yang merupakan kontingen/koloni armada Portugis keturunan Yahudi belum menjadi pemeluk kristen pada saat itu padahal mereka merupapkan bagian dari kerajaan Portugis. Pada waktu itu (akhir penaklukan Perang Salib) banyak orang Yahudi yang tidak mau memeluk Kristen memilih keluar dari negeri Spanyol dan Portugis dan kemudian karena dikejar-kejar tentara salib untuk dibunuh.

Banyak diantaranya yang membayar dan menyogok awak-awak kapal dan nahkoda kapal-kapal penjelajah Spanyol dan Portugis agar bersedia membawa serta mereka keluar dari Jazirah Iberia menuju dunia baru untuk menetap di dunia baru/ dunia yang baru yang ditemukan oleh pelaut-pelaut Portugis dan Spanyol yaitu di timur jauh dan benua Amerika dalam hal ini Maluku, khususnya Pulau Teon Nila S’rua. Dan akhirnya mereka berhasil menyelamatkan diri dari Pengadilan Inkuisisi Spanyol dan Portugis marga/klan Resley dan Koenoe serta beberapa marga keluarga Yahudi lainnya yang ikut armada Portugis datang ke dunia baru alias yang baru ditemukan dalam hal ini Maluku, Pulau TNS. Marga ini merupakan bagian dari suku-suku Yahudi yang melarikan diri dari pengadilan inkuisisi karena ingin berpegang kepada agama yang mereka ikuti.

Bagaimana dengan Kepercayaan, semua suku Israel yang hilang sudah pasti mempunyai sedikit atau sisa peninggalan kepercayaan kepada Tuhannya YAHWEH,EL/Eli/Eloy/Eloim, sangat disayangkan karena sisa-sisa suku Israel (asli) yang hilang ditemukan sudah jauh meninggalkan kepercayaan mereka kepada Tuhan nenek moyang mereka, hal ini ditemukan dalam beberapa kasus seperti suku-suku Israel yang hilang di China dan Myanmar dan lain-lainnya, yang sudah jatuh dalam penyembahan berhala sejak Mereka diusir oleh YAHWEH, Eloim mereka karena menyembah berhala-berhala yang menjadi alasan pengusiran mereka oleh YAHWEH, Eloim mereka.

Apalagi setelah mereka tiba ditanah pembuangan mereka yaitu Ashur/Asyur/Assiria daerah sekitar Irak, Persia/Iran yang merupakan kerajaan penakluk mereka dan setelah berdiaspora ke berbagai tempat dimana mereka berdomisili sekarang, seperti india, Myanmar, China dll. Ini juga karena mereka takut dan dilarang menyebut dan memanggil dengan sembarangan Nama Sang Pencipta yaitu YAHWEH yang merupakan nama yang suci dan kudus, bahkan untuk menuli Nama Yahweh mereka harus menggunakan tinta emas. Mereka percaya kepada berhala-berhala setempat dan mencampuradukan tapi dalam keadaan suit dan mendesak mereka memanggil dan menyebut Nama YAHWEH, ELoim sang Pencipta.

Bagaimana dengan sisa dan jejak kepercayan orang Maluku kapada Tuhan sang pencipta Israel dalam hal ini suku Israel yang terbuang sampai ke ujung timur yang sudah diwahyukan dan diramalkan dalam Alkitab Yesaya 43:5-6. Orang Maluku sudah sangat jauh dan jatuh dalam penyembahan berhala. Tetapi orang Maluku secara umum masih mempunyai jejak-jejak penyembahan kepada Tuhan El/Eloi/Eloim, sebelum masuknya agama Kristen/Islam di Maluku. Dalam hal ini orang Maluku secara umum jarang atau tidak sama sekali menyebut Nama Yahweh karena Mereka takut akibat dari penyembahan mereka terhadap berhala dalam hal ini dominan dari suku Gad. Tetapi Nama El/Eloim masih disebut walaupun sudah jauh dari arti sesungguhnya karena sudah bercampur dengan kepercayaan pribumi Maluku. Nama ini kita temukan dalam Penyebutan terhadap Tuhan oleh beberapa Masyarakat Maluku seperti contoh ini.

Seperti di Maluku Tenggara, masyarakat setempat memangil dan menyebut Tuhan dengan Nama Upu El, Upu Ela, Upur Ela/upurEla dll, 2 huruf El/Ela menunjukan Nama dari Tuhan Israel yaitu El/Eloi. Seperti IManuEl yang dalam pengertian aslinya Eloim beserta kita atau Seperti israEL, Isra artinya tentara , El artinya El/Eloi. Dalam masyarakat Maluku Tengah hampir sama dengan kebiasaan bangsa Israel yang selalu menyembah dan mempersembahkan korban dibukit-bukit dan gunung. Masyarakat Maluku tengah menganggap gunung-gunung mereka adalah gunung-gunung suci, seperti gunung ManusEla, Murkele, Elhau dan nama-nama gunung lainnya.

ManusEla, nama gunung ini sendiri awalnya bernama : “ El Manu “ yang kemudian dalam ucapan sehari-hari berubah menjadi : El Mu, kemudian Menjadi : Mu El Manu berarti El ialah Eloim (bandingkan dengan : El/ Eloi/ Eli, Bab-El, Beth El dan lain-lain dalam kitab suci agama Kristen ) dan Manu berarti Ayam, yang mempunyai arti kiasan sebagai lambang yang menunjukkan arti Yang Hidup/ Kehidupan, Perkasa dalam hal ini: Manusia dalam bahasa Nunusaku ialah : Manu + Siya/Saiya yang berarti : Yang hidup itulah Saya/ Aku atau Aku/Saya yang memberikan hidup, Lebih tepat artinya : Aku/Saya yang hidup, memberikan atau melanjutkan hidup.

Dalam kepercayaan masyarakat Maluku keturunan Israel, semua Kapata-kapata Tua dari orang Alifuru, mulai dengan air ampuhan ( Air Bah ) Noh, Bahtera Noh yang terkandas di Aratu, kemudian umat Allah atau Siwa Lima yakni Alifuru, mulai bertolak dari El Manu/ El Mu/ Mu menyusuri Sungai-sungai Tala, Eti, Supalewa dan Uli Batai , terpencar-pencar dan menduduki tanah kering/ pulau/ benua yang maha luas itu. Jadi arti dari Nam gunung El Manu/ManusEla menunjukan pribadi Tuhan El/Elohim yang Perkasa bandingkan dengan Nama Pribadi Sang juruselamat ImanuEL dengan Nama gunung yang dianggap suci dan juga menjadi sesembahan beberapa orang Alifur dan Naulu yaitu Elmanu atau ManusEla. Dua Nama Tersebut memiliki arti sama.

Gunung Murkele, Maluku tengah. Nama ini berasal dari penamaan nenek moyang orang Maluku pada jaman dulu. Mur artinya Cahaya dalam bahasa ibrani Mur atau Mir. Ada yang mengatakan bahasa Arab tapi ingat orang arab tidak menyebut Mur/Mir tetapi Nur dan orang Arab tidak pernah menyembah atau menyebut Nama El/Eloim dan ada nama marga Maluku yaitu Miru yang artinya cahaya, coba kita bandingkan dengan kata Meir dan Miru, Mur adalah Cahaya, El/Ele adalah Tuhan yang perkasa dan besar jadi arti nama gunung Murkele adalah Cahaya

Tuhan yang besar. Gunung ini dianggap suci oleh orang Maluku dan disitu disimpan duplikat-duplikat loh batu/ The Ten Commanmends (Sepuluh Perintah Tuhan) yang sengaja dibawa dan dibuat oleh nenek moyang mereka (dari suku Israel) yang datang ke tanah Maluku untuk mengingat Perjanjian leluhur mereka dengan Tuhan Eloim mereka. Dan masih banyak nama gunung yang penamaannya mengandung nama Tuhan Eloim Israel tapi saya tidak akan menyebut dan membahas nama-nama gunung tersebut karena beberapa pertimbangan karena berada atau terletak di daerah saudara-saudara kita yang beragama Islam. Dari tulisan diatas kita bisa lihat pemahaman orang Maluku terhadap TuhanNya.

Mereka masih mengingat sedikit Nama Tuhan mereka yaitu El/Eloi/Eloim walaupun pribadi yang mereka sembah salah yaitu gunungnya bukan TuhanNya lagi. NamaNya benar tetapi mereka sudah tidak mengenal pribadinya lagi, mereka menganggap Tuhan mereka adalah gunung-gunung karena kepercayaan mereka sudah bercampur aduk dengan kepercayaan bangsa-bangsa lain. Beberapa kosa kata bahasa setempat Pulau Teon Nila S’rua, Maluku khususnya masyarakat Pulau S’rua yang sama atau mirip dengan bahasa Ibrani masih banyak ditemukan tetapi keterbatasan karena Penulis belum menguasai bahasa Ibrani maupun S’rua maka beberapa yang Penulis ketahui ada sebagai berikut   :

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Kharasi = Perencana : Dipakai bagi tukang/pengrajin yang terampil (pekerja seni) yang menghasilkan karya yang indah

Bahasa S’rua (Serua)

Kharisa = Pekerjaan yang menghasilkan sesuatu yang indah dinikmati misalnya makanan yang enak

Kharea = bekerja secara umum

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Zera (baca zarakh) = naik, muncul, bersinar

Bahasa S’rua (Serua)

Sari = naik, muncul bersinar

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Le’u = papan tulis dari papan yang dapat dilipat-lipat

Bahasa S’rua (Serua)

Le’u = sesuatu yang dapat dilipat-lipat dibengkokan

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Taw = huruf belakang abjad Ibrani

Bahasa S’rua (Serua)

Taw = belakang, bagian belakang

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

M’zuza = tiang (tiang pintu)

Bahasa S’rua (Serua)

M’nita = pintu

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Masa, dari nasa = menguji/percobaan, merasakan sesuatu

Bahasa S’rua (Serua)

Na’sa = Mencoba

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Syir = nyanyian

Bahasa S’rua (Serua)

Snera = nyanyian, menyanyi

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Ayil = sepotong tiang

Bahasa S’rua (Serua)

Ai = sepotong tiang, kayu

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Kharod = gemetar

Bahasa S’rua (Serua)

Khasra = takut

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Zamzumim (dari akar kata arab) = tidak jelas, tidak pasti

Bahasa S’rua (Serua)

Zamzama = sesuatu yang tidak jelas, makanan yang keliatan baik tapi saat dimakan ternyata tidak baik

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Ma/me = kata ganti apa?

Bahasa S’rua (Serua)

Me = kata ganti apa, bagaimana?

————————————————————————————————————————————————————

Bahasa Ibrani (Ibrani/Israel)

Pekah (peqakh) = terbuka, berlobang

S’rua

Pekah, poka = pecah terbelah, berlobang

————————————————————————————————————————————————————

Inilah sebagian kecil persamaan kosa kata bahasa yang diketahui digunakan masyarakat S’rua, Maluku yang mirip dengan bahasa Ibrani atau Israel kuno menjadi bahasa daerah di Pulau S’rua. Kesamaan ini memberikan petunjuk bahwa ada hubungan (benar) bahwa suku-suku Israel yang hilang berada di Pulau Maluku dan membaur dengan warga pribumi menjadi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

REFERENSI
ISRAEL YANG HILANG TERNYATA BERADA DI MALUKU, Ditulis oleh Ongka Wotay Ben Kolelsy, 05 Januari 2012



Daftarkan email anda disini untuk menerima update artikel terbaru langsung di inboxmu. Gratis!

DMCA.com Protection Status