Sejarah Pela Darah Negeri Tihulale - Huku


Sejarah Pela Darah Negeri Tihulale - Huku
Sejarah Pela Darah Negeri Tihulale - Huku. Hubungan Pela Darah antara Negeri Tihulale dengan Negeri Huku Kecil dan Huku Anakotta diawali dengan peperangan besar antara kedua Negeri yang menimbulkan pertumpahan darah sehingga mengakibatkan jumlah penduduk kedua negeri menjadi sedikit karena terbunuh dalam perang yang berlangsung cukup lama. Adapun yang menjadi penyebab utama daripada peperangan ini adalah terbunuhnya Sopai Tosil di Negeri Tihulale.

Sopai Tosil merupakan seorang keturunan bangsawan Negeri Huku. Sopai Tosil dibunuh atas perintah Raja Tentapan Salawane karena menjalin cinta dengan Oeramasa Salawane yang merupakan putri bungsu Raja Tentapan Salawane. Suatu hari Sopai Tosil turun dengan maksud berkunjung dari Negeri Huku ke Negeri Tihulale kemudian tanpa sengaja ia bertemu dengan Oeramasa Salawane. Sopai Tosil kemudian jatuh cinta kepada Oeramasa Salawane dan keduanya secara diam-diam saling bertemu dan kemudian menjalin hubungan.

Sampai suatu hari terdengarlah di telinga sang raja berita bahwa putri bungsunya berhubungan dengan Sopai Tosil. Raja tidak menyetujui hubungan antara putri bungsunya Oeramasa Salawane dengan Sopai Tosil yang kemudian memerintahkan untuk membunuh Sopai Tosil. Kematian Sopai Tosil ini membuat Oeramasa sangat kecewa dan marah sehingga ia melarikan diri ke Negeri Paulohi di bagian Masohi dan tidak pernah kembali lagi ke Tihulale hingga sekarang.

Tidak kembalinya Sopai Tosil ke Negeri Huku membuat keluarganya resah sehingga menugaskan para hulubalang dan para pengawal kerajaan untuk turun ke Negeri Tihulale untuk mencari, menjemput dan membawa pulang Sopai Tosil, sesampainya di Negeri Tihulale mereka sangat terkejut mendengar kabar bahwa Sopai Tosil telah dibunuh. Kemudian mereka kembali untuk melaporkan hal tersebut kepada sang Raja Negeri Huku. Alangkah marahnya Sang Raja dan keluarganya mendengar bahwa putra mereka telah dibunuh, Raja lalu memerintahkan bala tentara perangnya dan para penduduknya untuk membunuh setiap warga negeri Tihulale yang mereka jumpai dimana saja.

Peperangan pun dimulai, karena setiap warga negeri Tihulale yang dijumpai oleh penduduk negeri huku dibunuh maka Raja Tentapan memerintahkan juga untuk membunuh setiap warga negeri Huku yang mereka jumpai dimana saja. Peperangan ini berlangsung cukup lama sehingga makin hari jumlah penduduk kedua negeri semakin berkurang. Peperangan ini terus berlangsung sampai pada pemerintahan Raja Timothius Salawane. Karena peperangan dilihat begitu merugikan kedua negeri maka Raja Timothius Salawane mengambil kebijakan dan memutuskan menghentikan perang untuk mencegah jatuh lebih banyak korban diantara kedua belah pihak dan berjanji akan naik ke Negeri Huku untuk mengadakan perjanjian damai diantara Kedua Negeri.


Sejarah Pela Darah Negeri Tihulale - Huku

Perjanjian ini kemudian disepakati oleh Raja Negeri Huku. Raja Timothius Salawane kemudian memerintahkan 120 orang pasukannya untuk pergi dengannya ke Negeri Huku. Sesampainya di Negeri Huku, Raja Timothius Salawane mengadakan kesepakatan damai yang berbuah naskah perjanjian sumpah pela darah antara kedua Negeri Huku dan Negeri Tihulale. Isi naskah perjanjian pela darah itu adalah sebagai berikut : 


Upu Loterumi ooo,
Ume ooo,
Huran ooo,
Limatai ooo,
Aman ain rua, Huku-Tihurale i,
Mi tarima sopa, sopa ooo,
Ale sei a he aman rua,
Mahina ke e malona,
Tamata hira i ke ahuntai mau i
Sei sahu sopa le,
Ei Supu Hukuman, Hukuman Oooo

1.
Huku ta boleh tupa Ruma Tihurale i
Tihurale i ta boleh tupa Ruma Huku
Huku ta boleh pakai souraha i hei Tihurale i
Tihurale i ta boleh pakai souraha i hei Huku
Ale sei sahu sopa le, ei supu hukuman
Seri tahuxu hua i teru
Pina hatu hua i teru
Pina puti utun teru

2.
Huku ta boleh lepe minat wa Tihurale i
Tihurale i ta boleh lepe minat wa Huku
lopu, seit wa Tihurale i
lopu, seit wa Huku
Huku ta boleh lepe hau wa Tihurale i
Tihurale i ta boleh lepe hau wa Huku

3.
Huku ta boleh tihi Tihurale i ein hua wala i
Tihurale i ta boleh tihi Huku ein hua wala i

4.
Huku ta boleh titi Tihurale i tura wael e
Tihurale i ta boleh titi Huku tura wael e

Ale sei a sahu sopa rua nala haa
Ein hukuman tamelen tura itate ele hola uran
Hira manahu nala aman ele manu

Hiooooo . . . . . . Hioooo . . . . . Hiooooo
Mese . . . . . Mese . . . . . Mese . . . . .

Jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia isinya sebagai berikut   !

Tuhan Yang Maha Esa
Tanah
Bulan
Matahari
Dua negeri, Huku-Tihulale
Terimalah sumpah ini
Barangsiapa dari kedua Negeri
Laki atau Perempuan
Laki-laki Dewasa maupun anak-anak kecil
Siapapun yang melanggar sumpah ini
Ia akan mendapat hukuman

1.
Huku tidak boleh kawin dengan Tihulale
Tihulale tidak boleh kawin dengan Huku
Huku tak boleh tunangan dengan Tihulale
Tihulale tak boleh tunangan dengan Huku
Siapa yang melanggar Sumpah, ia akan dihukum denda
Gong tiga buah
Piring mai 3 buah
Piring putih 300 buah

2.
Tidak boleh langsung dengan tangan Huku memberi ke tangan Tihulale
Tidak boleh langsung dengan tangan Tihulale memberi ke tangan Huku
senjata, ke tangan Tihulale
senjata, ke tangan Huku
Huku tidak boleh memberi api kepada Tihulale
Tihulale tidak boleh memberi api kepada Huku

3.
Huku tak boleh menggunting rambut Tihulale
Tihulale tak boleh menggunting rambut Huku

4.
Huku tak boleh menyiram Tihulale dengan air
Tihulale tidak boleh menyiram Huku dengan Air

Barang siapa yang melanggar sumpah
maka guntur akan menyambarnya
hujan besar turun negeri tenggelam

Hiooooo . . . . . . Hioooo . . . . . Hiooooo
Teguh . . . . . Teguh . . . . . Teguh . . . . .

Jika dilanggar konsekuensinya sangat berat sehingga Pela ini merupakan pela yang sangat keras dan selalu dijaga agar tidak terjadi pelanggaran.



Daftarkan email anda disini untuk menerima update artikel terbaru langsung di inboxmu. Gratis!

DMCA.com Protection Status