Kisah Haman Pardidu Dan Pendeta Joseph Kam


Kisah Haman Pardidu Dan Pendeta Joseph Kam
Kisah Haman Pardidu Dan Pendeta Joseph Kam. Haman Pardidu mungkin kata sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Maluku. Hampir sebagian besar Masyarakat Maluku tentu telah mengetahui kisah Haman Pardidu. Haman Pardidu adalah seorang anak laki-laki yang bernama Haman Semper. Ia adalah seorang anak yang sangat jahat. Ia sering melawan ibunya dan sering kali memukul ibunya dengan menggunakan tongkat. Namun ibunya tetap menyayanginya bahkan selalu menasehatinya dan berharap agar ia dapat berbuat baik, sayangnya nasehat dari ibunya tidak pernah didengarkan, malah ia berbalik menyerang ibunya dengan menggunakan pisau.

Ibu Haman tidak tega melihat anaknya selalu berbuat dosa. Pada saat mereka makan, kembali ibunya berusaha untuk tetap menasehatinya. Namun Haman tetap menjadi anak yang jahat dan tidak mau mendengarkan masihat ibunya. Dari hari ke hari, Haman semakin menjadi-jadi. Ibunya tidak dapat lagi menasehatinya, karena perbuatannya yang sudah tidak dapat diampuni lagi, maka ibunya menjadi sangat marah dan kemudian mengutuknya. Ibunya tidak lagi memperdulikan apa yang diperbuat Haman.

Tak lama kemudian, Haman meninggal, namun karena dosanya yang terlalu banyak, maka bumi tak mau menerima jasadnya ketika dimakamkan. Kuburan yang digali untuk memakamkan Haman selalu dipenuhi air, bahkan hinga tiga buah kuburan digali untuk memakamkan Haman namun tetap sama saja dipenuhi air. Akhirnya peti jenazah Haman dibiarkan begitu saja di atas tanah. Jiwa Haman menjadi tidak tenang. Setiap malam dari pukul tujuh malam sampai dengan pukul dua belas malam, jiwa Haman mulai mengembara berkeliling di sekitar pekuburan Belakang Soya sampai di Pulo Gangsa dan Wai Tomu. Karena itulah ia disebut Haman Pardidu (Pardidu adalah bahasa Portugis yang artinya mengembara).

Karena dosa-dosa yang dibuatnya selama hidup terlalu banyak, maka dalam pengembaraannya ia membawa sebuah tungku arang (tempat masak yang terbuat dari tanah liat) yang sangat panas di atas kepalanya. Setiap hari jiwanya tidak tenang dan terus mengeluh serta berteriak   :



" Haus… haus… haus... haus… haus... "
Penduduk sekitar tempat yang biasa Haman lalui menjadi sangat ketakutan. Mereka selalu menyiapkan mangkuk, ember maupun tong-tong berisi air untuk diminum Haman, namun karena hawa panas yang dibawanya maka sebelum ia dapat meminum air yang disiapkan untuknya, air-air tersebut menjadi kering. Karena selalu membuat resah masyarakat, maka pemerintah Belanda menjanjikan hadiah bagi orang yang dapat menenangkan jiwa Haman Pardidu. Pernah ada seorang tawanan yang mencoba menenangkan Haman Pardidu, tetapi orang itu meninggal karena terbakar pada saat bertemu dengan Haman Pardidu.

Haman Pardidu terus mengembara tanpa ada yang bisa menenangkannya. Pada saat itu di daerah Tanah Tinggi tinggal seorang pendeta yang bernama Joseph Kam. Pendeta Joseph Kam adalah seorang misionaris Kristen yang juga disebut Rasul Maluku, Pendeta Joseph Kam bertugas memberitakan injil di seluruh pelosok Maluku. Ketika Pendeta Joseph Kam mendengar suara Haman Pardidu, ia kemudian keluar menjumpainya sambil membawa Alkitab di bawah lengannya. Pada saat Haman mendekati Pendeta Joseph Kam, Kam kemudian berlutut dan berdoa dengan suara nyaring   :

“ Dengan nama Allah Bapa yang Mahakuasa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus lenyaplah. ”

Tiba-tiba terdengar bunyi yang sangat dahsyat dan pada saat itu tungku itupun hancur, Haman menjadi senang. Haman lalu berkata kepada Joseph Kam yang kira-kira dalam bahasa Indonesia berbunyi seperti ini   :
"Bapak Pendeta telah menenangkan saya"

Haman lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Pendeta Joseph Kam, tetapi tubuhnya masih panas. Pendeta Joseph Kam kemudian mengambil sapu tangannya dan mengulurkannya kepada Haman. Sapu tangan itupun hangus ketika Haman memegangnya. Setelah peristiwa itu Haman Pardidu kemudian menghilang hingga saat ini. Peti Jenazahnya kemudian dapat dikuburkan dengan selayaknya di daerah pekuburan Belakang Soya. Sejak saat itu Haman Pardidu atau Haman Semper tidak pernah lagi terdengar mengganggu siapapun di Kota Ambon hingga saat ini.

Referensi   :

  • Balai Pelestarian Sejarah Dan Nilai Tradisional Maluku Dan Maluku Utara



Daftarkan email anda disini untuk menerima update artikel terbaru langsung di inboxmu. Gratis!

DMCA.com Protection Status